thumb

Biaya Konstruksi Naik 15%? Ini yang Harus Diketahui Sebelum Mulai Membangun


Biaya konstruksi nasional tercatat naik hingga 15% sejak awal tahun, didorong oleh pelemahan rupiah dan kenaikan harga solar industri yang menekan industri konstruksi sepanjang semester pertama 2026. Kenaikan ini bukan terjadi dalam sekejap, melainkan akumulasi yang terus merambat selama beberapa bulan, sejalan dengan kurs rupiah yang terus tertekan terhadap dolar AS.

Membangun perumahan, ruko, ataupun hotel di tahun 2026 ini bukan perkara mudah. GAPENSI (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia) mencatat biaya konstruksi nasional naik 3-8% sejak awal tahun akibat konflik Timur Tengah. Berdasarkan Weekly Economic Update PEFINDO periode 15-19 Juni 2026, tekanan itu makin dalam — harga material impor seperti baja, komponen mekanikal-elektrikal-plumbing (MEP), dan semen khusus sudah naik 8-15% sejak awal tahun, sejalan dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Masalah Nyata yang Sedang Dirasakan di Lapangan


• Harga Material Melonjak
Harga solar industri naik dari Rp18.000-20.000 menjadi Rp21.000-23.000 per liter, yang langsung mendorong kenaikan harga semen, baja, aspal, dan agregat secara bersamaan. Material yang dipesan bulan lalu bisa berbeda harganya dengan yang dipesan hari ini.

• Kontrak Tidak Dilindungi Eskalasi Harga
Mayoritas kontrak proyek konstruksi tidak memiliki klausul penyesuaian harga (price escalation clause), sehingga saat biaya naik di tengah jalan, kontraktor tetap terikat pada nilai kontrak awal yang sudah tidak relevan dengan kondisi pasar saat ini — yang berimbas pada kelancaran proyek klien.

• Risiko Proyek Terbengkalai
Pemerintah hingga kini belum menetapkan kondisi ini sebagai force majeure, sehingga kontraktor tidak memiliki dasar hukum formal untuk mengajukan negosiasi ulang nilai kontrak kepada pemilik proyek. Kontraktor yang kehabisan margin di tengah proyek berpotensi memperlambat pengerjaan, menurunkan spesifikasi material, bahkan menghentikan pekerjaan sebelum selesai.

Dampak yang Ditanggung Pemilik Proyek


Ketika tiga masalah ini bertumpuk, dampaknya tidak berhenti di level kontraktor saja — pemilik proyeklah yang akhirnya paling merasakan akibatnya. Kontraktor yang kehabisan margin di tengah proyek cenderung memperlambat pengerjaan sebelum proyek selesai. Jadwal serah terima terlambat, kualitas bangunan tidak sesuai ekspektasi awal, dan biaya tambahan tak terduga pun muncul. Proyek yang seharusnya jadi investasi justru berubah jadi beban

Solusi: Perencanaan yang Realistis Sejak Awal


Solusinya ada pada kualitas perencanaan sejak awal — mulai dari pemilihan material yang efisien, pengadaan material yang terencana jauh sebelum harga naik lebih tinggi, hingga manajemen jadwal yang ketat agar tidak ada hari terbuang yang berujung pada pembengkakan biaya.

Di sinilah keputusan memilih kontraktor menjadi penentu segalanya. PT Reka Mulia Konstruksi (REKON) hadir sebagai mitra yang tidak hanya membangun, tapi juga memastikan setiap proyek dikelola dengan perencanaan biaya yang realistis, pengadaan material yang terukur, dan komitmen waktu yang jelas dari hari pertama hingga serah terima. Pelajari lebih lanjut layanan konstruksi REKON atau lihat portofolio proyek REKON.



Referensi: 



Penulis

Tim Editorial PT Reka Mulia Konstruksi

Tim editorial PT Reka Mulia Konstruksi terdiri dari para ahli konstruksi berpengalaman yang berkomitmen berbagi pengetahuan dan insight terbaru dalam industri konstruksi untuk membantu klien membuat keputusan terbaik.